Wednesday, June 10, 2009

Masyarakat Jawa di Malaysia

RUJUKAN: SENI HIBURAN Minggu, 24 November 1996 Surabaya Post

Wawancara: Dr Noerijah Jariah Mohamed PhD: Jawanya Manusia Jawa di Malaysia

Di antara pemakalah mancanegara yang hadir dalam Kongres Bahasa Jawa II di Batu 22-26 Oktober 1996 adalah Dr Noerijah Jariah Mohamed PhD dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Dari penuturannya, ternyata --selain di Suriname-- komunitas orang Jawa di luar negeri juga ada di Malaysia. Nah, di tengah kesibukannya mengikuti kongres, wartawan Surabaya Post, R.M. Yunani Prawiranegara mewawancarainya tentang kebudayaan Jawa dan kontribusi orang Jawa di Malaysia. Selain menjawab dengan bahasa Jawa yang mlipis, ia juga menggunakan bahasa Indonesia logat Malaysia yang terasa "janggal" bagi telinga kita. Jadi, sidang pembaca, harap maklum.

Berapa banyak sih orang Jawa di Malaysia?

Umumnya, mereka sudah berwarga negara Malaysia. Leluhur mereka datang sekitar tahun 1900 karena tekanan ekonomi. Masyarakat Jawa di Malaysia saat ini termasuk generasi ketiga dan keempat. Walaupun masih menggunakan sebagian adat dan kebudayaan Jawa, mereka sudah dianggap Melayu pribumi yang sah sesuai undang-undang Malaysia.

Yang terbanyak tinggal di Negeri Selangor, terutama di kawasan Tanjung Karang, Sabak Bernam, Kuala Selangor, Kelang, Banting, dan Sepang. Mereka masih mengekalkan beberapa unsur Jawa meski tidak total. Di Johor juga banyak, tapi yang muda-muda sudah lupa warisan leluhurnya. Bahkan sebagian ada yang merasa malu mengakui berketurunan Jawa. Mereka sudah tidak boleh (bisa, Red.) lagi bertutur bahasa Jawa secara baik dengan unggah-ungguh dan tata krama. Ada yang mengekalkan identitas dirinya dengan mewujudkan Persatuan Anak-anak Jawa. Kegiatan keseniannya kuda kepang dan reog, walaupun tidak sehalus di Jawa.

Mengapa mereka mesti merasa malu mengaku Jawa?

Jawa sering dikaitkan dengan "Jawa Kontrak". Mereka bermigrasi karena faktor ekonomi, dan sebagian karena tertipu. Ada yang naik haji dengan kapal laut, tapi terdampar di Singapura.

Ada alasan lain?

Ada yang merasa risih dengan pendatang Jawa tanpa izin, karena dianggap merenggut kekayaan Malaysia. Lo, padahal pendatang baru itu sama-sama dengan leluhur mereka... Pendatang baru ini membawa budaya yang sudah jauh berbeda dengan budaya mereka saat ini. Yang datang bukan semuanya dari Pulau Jawa. Tiap ada peristiwa kriminal sering dikaitkan dengan mereka, padahal tidak dinafikan bahwa kedatangan mereka juga membantu pembangunan Malaysia.

Apa pernah ada penelitian tentang masyarakat Jawa di Selangor?

Ada. Selain saya sendiri juga oleh sarjana tempatan seperti Dr Khazin bin Mohd. Tamrin tahun 1987. Sewaktu temu bual dengan 16 responden, hanya tujuh orang (41%) yang tahu tata krama bahasa Jawa seperti bentuk ngoko dan krama. Mereka berbahasa ngoko campur baur perkataan Melayu tempatan. Unggah-ungguhing basa dinyatakan dalam bentuk nada, gaya, dan aksentuasi suara dalam bahasa Melayu.

Hasil wawancara dengan 192 responden, 100% menggunakan bahasa Melayu walaupun terdapat pelat Jawa yang menebal, terutama golongan usia 55 tahun ke atas. Dengan sesama teman, mereka menggunakan bahasa Jawa ngoko, atau krama desa. Tradisi kenduri atau slametan masih ada, tapi sudah bergeser dari adat dan tradisi Jawa, karena pengaruh ajaran Islam. Di sana tak ada tradisi ngruwat seperti di Jawa karena Islam tak mengajarkan.

Menurut survei Wang Gangwu 1965, orang Kedayan di Serawak itu juga keturunan Jawa. Secara realistis, daerah penempatan masyarakat Jawa yang dikenal rajin bekerja di Sabak Bernam dan Tanjung Karang ini sering dijadikan model kerena memenangi perlombaan kampung. Contohnya Kampung Endah yang penduduknya 100 peratus (persen, Red.) keturunan Jawa.

Senarai nama jawatan kuasa Kampung Endah yang masih mengekalkan nama tradisi Jawa walau berbentuk kampungan, seperti Tuan H Salleh Ideris, Encik Mispan bin Zainal, Tuan H Sungip Zainal, dan Tuan Ngadiran bin H Ramli.

Apa ada kontribusi masyarakat keturunan Jawa untuk Malaysia?

Karena telah melebur sebagai pribumi, mereka berusaha kuat dalam pelbagai bidang dengan tujuan kestabilan Malaysia. Konsepnya, "di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung". Kampung-kampung Jawa seperti Tanjung Karang, dikenal sebagai jelapang (lumbung, Red) padi Selangor. Di dalam dunia koporat (bisnis, Red) terdapat nama-nama Jawa seperti Dato' Basri Bajuri di Selangor. Dalam aktivitas sosial, mereka bergiat cergas pada proyek gotong-royong membersihkan surau, masjid, pekuburan dan kenduri perkawinan. Mereka masih mengekalkan konsep guyup dalam kehidupan keseharian. Di cabang kesenian, mereka mengadakan kumpulan kemplingan (terbangan, Red) dan seni silat. Kumpulan gamelan dan wayang purwa tidak ada, tapi ada kumpulan seni keroncong di Sikajang.

Lalu bagaimana aktivitas mereka di dunia politik?

Keturunan Jawa bergiat dalam partai-partai sama ada di pihak lawan dan pemerintah. Aktivitas mereka kebanyakan di partai pemerintah, UMNO. Di Sungai Besar, Sabak Bermam, dan Kuala Selangor, kebanyakan wakil rakyatnya masyarakat keturunan Jawa. Mereka mendirikan Perjas (Persatuan Jawa Anak Selangor). Walaupun keturunan Jawa, perjuangan mereka untuk seluruh kepentingan penduduk Melayu. Menteri Penerangan Dato' Muhammad Ramhad, juga keturunan Jawa, sehingga dilantik sebagai Penaung Persatuan Anak-anak Keturunan Jawa di Johor.

Kalau perhatian pemerintah terhadap etnis Jawa di Malaysia bagaimana?

Bahasa Jawa masih boleh (bisa, Red) bernapas lega kerena bahasa Jawa sudah mulai ditawarkan kepada pelajar Universiti Malaya. Hingga kini sudah 15 orang yang cuba (coba, Red) menjurus ke dalam penguasaan bahasa ini. Tradisi rewang, sambatan, nyumbang, dan pakatan yang merangkumi aspek sosial dan ekonomi Masyarakat Melayu ini mewujudkan rasa timbang rasa dan tidak mementingkan diri sendiri. Tradisi ini baik, sehingga PM Dato' Seri Dr Mahatir Mohammad menyarankan agar perlakuan ini diteruskan oleh mereka yang tinggal di kota-kota.

Soal etika dan tata krama Jawa?

Meski tak kenal unggah-ungguhing basa seperti ngoko, krama, dan krama inggil, penghormatan kepada orang yang dituakan masih dilakukan selaras ajaran Islam. Konsep tata krama diwujudkan dalam tradisi undang-undang kenduren, munjung, kondangan, berkatan dan pamitan.

Apa saran Anda untuk masyarakat keturunan Jawa di sana?

Mereka masih cuba mengekalkan tata cara yang diwarisi leluhur mereka, tapi dalam bentuk yang sedikit beda kerena pembauran yang sudah sebati dengan masyarakat tempatan. Dengan peratus yang semakin berkurangan, mereka mulai tidak mengetahui leluhurnya. Persatuan dan perkumpulan semacam itu dapat mengekalkan warisan leluhur mereka selaras dengan agama yang dianuti dan konsep berbaik-baik di antara negara serumpun.

17 comments:

A.S. Kasah said...

QUOTE- "Menurut survei Wang Gangwu 1965, orang Kedayan di Serawak itu juga keturunan Jawa. Secara realistis, daerah penempatan masyarakat Jawa yang dikenal rajin bekerja di Sabak Bernam dan Tanjung Karang ini sering dijadikan model kerena memenangi perlombaan kampung. Contohnya Kampung Endah yang penduduknya 100 peratus (persen, Red.) keturunan Jawa."-UNQUOTE

Saya tertarik dengan kenyataan di atas dimana sukukaum Kedayan di Sarawak juga adalah keturunan Jawa. Saya sebagai seorang Kedayan tulin amat berminat untuk mendalami kenyataan di atas. Pihak kami juga telah banyak menjalankan kajian tentang asal-usul sukukaum Kedayan Borneo dimana kami tidak mendapati sebarang persamaan pun diantara Bahasa Jawa dengan dialek suku kaum Kedayan. Begitupun kami mendapati terdapat sedikit persamaan diantara Bahasa Banjar dengan dialek orang Kedayan dan yang amat menakjubkan terdapat 90% persamaan diantara dialek sukukaum di KUTAI adalah sama dengan dialek sukukaum Kedayan. Jadi apakah asas yang digunakan untuk kesimpulan bahawa sukukaum Kedayan itu juga keturunan Jawa?

Sila lawat blog saya http://darahkedayan.blogspot.com/ dan http://itsurday.blogspot.com/ dan http://simply-kedayan.weebly.com/ untuk mengenali suku kaum Kedayan Borneo. Terima kasih.

khairun said...

kenapa saya merasakan ada unsur berat sebelah..seolah-olah seperti marah pada orang jawa malaysia?

mujahidin said...

oh ya!

Anonymous said...

waduh jawa di mana mana..padahal di jawa sendiri mereka tidak mengakui mereka org melayu..bahkan menganggap suku mereka lebih tinggi daripada suku melayu..istilah metal alias melayu total merupakan sindiran terhadap musik indonesia beraliran melayu..seharusnya pemerintah malaysia lbh melestarikan kebudayaan melayu dan pribumi di sabah dan sarawak ketimbang memajukan budaya jawa..semoga malaysia tetap dgn identitasnya sbg salah satu negara melayu sbgmana indonesia adalah negara jawa

jack said...

hi anonymous, Indonesia is Indoesia bukan negara Jawa. Jangan ada rasis! We hate racism.

Anonymous said...

sakijan muri

Anonymous said...

Bner tu, saya orang jawa juga gag setuju,, indonesia adalah bangsa dari sabang sampai merauke tidak ada pengecualian,,,

Raden Mas Arie said...

Ini semua hanya menyangkut tradisi orang jawa di Malaysia gak da bedanya dengan tradisi orang tionghoa di indonesia.
Jadi gak ada unsur negara jawa dll,terlalu berlebihan jika berfikir ke arah situ.

Tapi cepat atau lambat sebagai orang jawa yang lahir dan besar di tanah jawa ingin pindah jadi warga negara Malaysia,dan ingin hidup di Selangor Malaysia.

Menguatkan dan menghimpun lagi tradisi jawa di sana kalo perlu mengupas lagi kitab kitab kuno jawa karangan para Resi,Mpu dan Begawan untuk kemaslahatan suku jawa dan negri Melayu.

Melayu tradisi yang kuat di padu jawa yang bertata krama luhur sungguh akan menjadi sesuatu kekuatan hebat di masa mendatang.

Rasa muak itu mulai menggelayuti nuraniku ketika di tanah jawa sendiri pergesaran pergeseran yang menggerogoti identitas suatu kaum sangat tidak terjaga.

Mulai dari bahasa jawa yang sudah bercampur dengan bahasa indonesia,bahasa indonesia sudah banyak bercampur bahasa ingris.
Indentitas suatu kaum dan negri sudah menipis,salahkah bila di hidupkan kembali nilai nilai luhur di bumi melayu.

Kita lihat upin ipin begitu kentalnya tradisi melayunya,coba kita liat negri katulistiwa ini apa yang masih tersisa,dari sudut sudut kampung banyak terpampang bahasa asing,seolah olah kalo sudah pakai bahasa asing sudah di atas segala galanya.

Dan itu sebuah kekonyolan yang harus di selamatkan,semoga!!!

Anonymous said...

kajian setakat ini menunjukkan bahawa bahasa kedayan hampir menyamai bahasa melayu banjar BUKAN jawa. jadi, kajian baru perlu diambil.

Anonymous said...

aku jan setuju tenan'!

Faizah Yahya said...

bagus information nie..,, menjadi bahan untuk wat kerja kursus sekolah...

pete zamsh said...

banjar = melayu malaysia + iban indonesia

kedayan = melayu brunei + jawa malaysia

Anonymous said...

Lepas ni jangan bingung2 atau hina melayu kerana Dalam malaysia..melayu adalah orang nusantara yg beragama islam tidak kira dia daribangsa apapun di nusantara ini...jika dia pijak bumi malaysia dia adalah di anggap melayu..tapi sebenarnya dia sendiri bangga dan berkata sya adalah melayu tanpa di paksa kerana orang melayu di malaysia atau tanah melayu sangat baik budipekerti dan x bersikap perkauman..itulah juga sebab kenapa india dan cina bole hidup lebih baik di sini drpd tmpt asal mereka..dan mereka juga bangga jadi sebahagian malaysia. Sama ada anda jawa, bugis, sunda..apabila anda di malaysia anda akan kata anda melayu.dan melayu angap anda tanpa projudis sebagai melayu.semua bangsa nusantara di sini adalah melayu yang sangup mati demi negara ini.

Anonymous said...

Indonesia itu bukan hanya jawa tapi ada sunda,ambon,papua,madura,dayak,betawi,minang,aceh dll.Indonesia itu mayoritas muslim tapi ada juga kristen,budha,hindu,konghucu.Kami beda tapi tetap satu.itu harga mati NKRI.

Anonymous said...

Kita memang beda..Tapi apa salahnya kita saling memijak tanah nusantara. Dulu waktu masih zaman kerajaan, Nusantara itu adalah : Indonesia, brunei, malaysia, singapore. Karna kita masih satu nenek moyang. Buktinya perawakan (rautwajah) dan bahasa kita tidak terlalu berbeda. Tetap jaga persatuan kita sesama negara2 yg berasal dari 1 Nusantara. Malaysia Boleh.. Indonesia Bisa..

baharawija said...

Kawula tiyang jawi saking alit. Awit mekaten, kula mboten sarujuk bilih wonten ingkang ngendikan Indonesia menika negara Jawi. Indonesia mboten jawi. indonesia niku saking sabang dumugi merauke.Jawi amung salahsawijing isen-isene indonesia.sami kalih sanes-sanesipun,Tanpa sukubangsa sanes, indonesia mboten wonten artinipun. Suwun

(Saya orang jawa sejak kecil. meski demikian saya tidak setuju bila ada yang mengatakan Indonesia adalah jawa.Indonesia Bukan Jawa. Indonesia dari sabang-Merauke.Jawa hanya salah satu isi dari Indonesia.Sama dengan yang lainnya. Tanpa suku bangsa yang lain, Indonesia itu tidak ada artinya. terima kasih

Im was born as a javanese. But, I dont ever agree if people say Indonesia is Java. Indonesia Isn't Java. Indonesia is entirely island from Sabang to Merauke(Just like our song, heheheh).Javanese are same like other ethnic group/rate/clan. without other tribe ,Indonesia is absolutely nothing. Thanks

bangga jadi orang indonesia yang berbilang kaum dan puak

Ummi Shafeha said...

Saya berketurunan jawa yang tinggal di Malaysia dan merupakan generasi ke5. Budaya masyarakat jawa masih saya amalkan mestipun tidak 100%. Bahkan pertuturan seharian juga walaupun tidak 100% dalam bahasa jawa tetapi kami tetap menyelikkan beberapa perkataan dari bahasa jawa kerana sifat jati diri masih lagi menebal dalam jiwa kami. Konsep seperti rewang ataupun sinoman masih lagi diamalakan. Dan perkataan rewang itu sendiri begitu sinonim dengan masyarakat Malaysia. Ada beberapa budaya dalam masyarakat jawa di Malaysia masih di amalkan sehingga sekarang malah turut akan di turunkan kepada generasi selepas kami.Seperti, kondangan, muputi, baraan, unggah uggahan dan dll. 100% masyarakat jawa di Malaysia beragama islam. Justeru itu, terdapat beberapa budaya jawa yang tidak lagi di amalkan di Malaysia kerana ia tidak bertepatan dengan ajaran islam dam boleh menjurus kepada syirik. Contohnya budaya lenggang perut, jampi separah dan bertukar-tukar kain sebanyak 7 kali sebagai simbol memudahkan proses bersalin tidak lagi diguna pakai kerana bertentangan dengan syariat islam itu sendiri. Tetapi masih terdapat segelintir yang masih mengamalkannya. Saya lahir membesar dan duduk dalam daerah yang majoritinya berketurunan jawa, ayah saya berketurnan jawa perak dan ibu pula berketurunan jawa selangor. Mestipun berbeza dari sudut geografi tapi kami masih dihubungkan dengan budaya yang tidak jauh bezanya. Terdapat perbezaan dari segi intonasi dan beberapa perkataan dalam dalam bahasa jawa antara dua negeri ini. Jika diamati bahasa jawa yang ditutur ibu lebih lembut dan halus berbanding bahasa jawa yang ditutur ayah agak kasar bunyi dan maksudnya. Begitu juga raut wajah, keturunan ibu berkulit putih dan berhidung agak peyek. manakanla ayah berbadan tegak, berkulut sawa matang dan berhidung mancung. Ia Budaya masyarakat jawa Malaysia yang rajin bekerja, lemah lembut, terbuka, toleransi dan bekerjasama sedikit sebayak dibawa dari tanah susur galur keturunan kami di Indonesia. Jika di dilihat di tanah kelahiran saya, rata-rata masyarakat jawa di sini agak berada. Ia dapat di lihat dengan rumah besar dan kenderaan mereka. Dan tidak meninggi diri boleh saya katakan agak susah mencari kenderaan awam di kampung kelahiran saya melainkan dibandar kerana masyarakat jawa di sini hampir kesemuanya berkenderaan. ia mungkin kerana sikap rajin bekerja masyarakat jawa yang mendorong kepada peningkatan taraf hidup selain bantuan dari pihak kerajaan. Di kampung saya, masyarkatnya sangat terbuka dengan kehadiran orang luar. Kalau pergi kerumah orang jawa mesti tetamunya tidak akan pulang dengan kelaparan. Sekurang-kurangnya air kosong akan dihidangkan. Sifat persaudaraan kami kuat. Tak heranlah kami begitu terbuka dalam penerimaan orang baru dalam komuniti kami. Pekerja dari Indonesia yang bekerja dan menetap disini kami terima dengan ikatan persaudaraan yang kuat lagi-lagi jika ia juga adalah masyarakat jawa. Mereka dengan mudah diterima dan dianggap sebagai saudara sendiri. Rata-rata pekerja Indonesia yang bekerja di kampung kelahiran saya adalah berketurunan jawa dan mereka amat betah tinggal di sini. Justeru itu, saya tidak bersetuju jika dikatakan masyarakat jawa di Malaysia malu untuk menggelar diri sebagai jawa. Kerana budaya masyarakat jawa di terima dan di jadikan sebagai budaya masyarakat Malaysia contohnya rewang dan masih menggunakan perkataan rewang itu sendiri. Sikap toleransi inilah yang menjadikan Malaysia begitu unik dan dapat mengekalkan perpaduan diantara kaum. Jarang kami lihat dan dengar pergaduahan antara kaum melainkan tragedi 13 Mei 1969.